aa nusa2
Internasional

Amuk Rezim Suriah di Ghouta, Korban Tewas Tembus 500 Orang

RepublikHotNews – Militer rezim Suriah dan sekutunya nyaris tanpa henti membombardir wilayah Ghouta Timur yang dikuasai pemberontak selama sepekan terakhir. Korban tewas amukan rezim Suriah hingga Sabtu malam sudah mencapai 520 orang.

Sejak perang sipil pecah di Suriah tujuh tahun silam, Ghouta Timur dikuasai kubu pemberontak atau oposisi. Warga sipil yang sejatinya tidak berkepentingan dalam konflik politik itu terkepung. Bantauan pangan dan medis tak bisa masuk ke wilayah yang selalu gagal diterapkan gencatan senjata tersebut.

Data dari kelompok Medecins Sans Frontieres (MSF) atau dikenal sebagai kelompok Dokter Lintas-Batas menyatakan 520 orang tewas dalam tempo hampir seminggu. Perang di Ghouta Timur, menurut  MSF, semakin sengit.

Banyak serangan bom menargetkan bangunan medis, dan para dokter di fasilitas yang tersisa berjuang keras seiring membengkaknya jumlah pasien yang mengalami luka parah.

Selain serangan bom berpresisi, wilayah Ghouta Timur juga dihujani rudal. Tim penyelamat kesulitan menghitung maupun menemukan korban tewas karena banyak bangunan hancur.

Layanan pertolongan pertahanan sipil, yang dikenal dengan nama White Helmets (Helm Putih), mengaku telah mendokumentasikan setidaknya 350 kematian dalam empat hari pertama serangan tersebut.

”Mungkin masih banyak lagi,” kata Siraj Mahmoud, juru bicara kelompok tersebut kepada Reuters. ”Kami tidak bisa menghitung martir kemarin atau sehari sebelumnya karena pesawat tempur melakukan tur di langit,” katanya lagi, yang dilansir Minggu (25/2/2018).

Kebanyakan orang yang telah lolos dari kematian atau cedera memilih bersembunyi di bunker bawah tanah dengan sedikit atau tanpa listrik. Mereka juga krisis makanan.

”Situasinya bencana, anak-anak tidak makan selama dua hari berturut-turut,” kata seorang aktivis yang berbicara dalam kondisi anonim. ”Dewan lokal bahkan tidak bisa menyediakan makanan untuk anak-anak. Orang dewasa mungkin bisa bertahan, tapi anak-anak tidak bisa,” ujarnya.

”Kami memiliki sejumlah besar bayi di bawah usia enam bulan yang tidak memiliki susu formula, yang ibunya (tidak memiliki susu) untuk menyusui mereka. Umumnya kita memiliki sejumlah besar anak-anak berusia antara enam bulan dan lima tahun dengan kondisi tidak makan,” imbuh aktivis tersebut, yang dilansir The Guardian.

Para dokter dan aktivis medis dari seluruh dunia menyerukan diakhirinya kekerasan, perlindungan bagi warga sipil, dan tindakan yang lebih besar dari PBB. Seruan bersama itu diterbitkan di Lancet.

”Kelambanan dalam menghadapi serangan yang tak henti-hentinya terhadap warga sipil merupakan kegagalan epik para pemimpin dunia,” bunyi seruan tersebut.”(Seruan) ini mengecam pola serangan, yang secara dominan menargetkan wilayah sipil, dan menunjukkan posisi semua warga sipil di wilayah oposisi adalah target yang sah.”

Militer Suriah dan Rusia mengklaim serangan mereka tidak menargetkan warga sipil, namun hanya kelompok pemberontak dan kelompok militan.

Pada hari Jumat, Dewan Keamanan PBB gagal menyetujui resolusi gencatan senjata 30 hari yang diusulkan di seluruh Suriah. Kegaglan itu karena ada keberatan dari pihak Rusia. Padahal, gencatan senjata tersebut akan memungkinkan pengiriman bantuan darurat kemanusiaan dan evakuasi medis.

Facebook Comments
To Top

Powered by themekiller.com watchanimeonline.co